Catatan Akhir Tahun 2006

Sunday, December 31, 2006

Catatan Akhir Tahun 2006



Dalam beberapa jam ke depan, tahun 2006 akan segera berganti ke tahun 2007, banyak kejadian yang ingin gue tuliskan sebagai catatan akhir tahun. Tahun yang begitu penuh warna, dramatis sekaligus menegangkan.
Dari kemarin gue ingin sekali dapat meluangkan waktu sekitar 1-2 jam di depan PC, tapi ngak pernah kesampaian karena Mahesa seringkali membutuhkan perhatian, ditambah 2 inang PBB malah keseringan ikutan libur kalau mereka lihat ada gue dirumah. Jadilah gue PBB di rumah gue sendiri, ngpp!, salah satu bentuk penghormatan gue kepada mereka, tokh mereka pun butuh kali-kali istirahat. Lha gue?, kapan istirahatnya?, hehehe…katanya ikhlas, kok masih ngeluh?!.

  • Tadinya akhir tahun ini, gue akan lewatkan bersama beberapa orang teman kuliah, ngumpul disebuah apartement milih bos salah satu temen gua, tadi sayangnya, dalam hitungan beberapa jam bisa dibatalkan karena temen gue mendapat cobaan, dia kehilangan teman SMU sekaligus teman kerjanya menghadap YME.
    Begitulah manusia, Tuhan dapat merubah segalanya dengan cepat!. Jadilah gue dirumah bertiga dengan anak gue. Suami gue, gue suruh pulang ke rumah orangtuanya, menginap disana. Seringkali gue justru menikmati keadaan jauh dari dia. Hehehhe.

    Tahun 2006 gue lalui dengan sedikit terseok-seok, tahun yang sangat mengejutkan sekaligus mengurus emosi dan ketahanan mental gue sebagai manusia. Di tahun 2006, ada beberapa kejadian yang patut gue catat, diantaranya:
  • Bulan Januari akhiri, gue telat menstruasi, setelah dicek pakai test pact, ternyata gue positif hamil, hamil yang mungkin tidak direncanakan dan dengan segala “rasa” gue putuskan untuk melanjutkan dan merawat kehamilan gue sebaik mungkin;
  • Awal Februari, adik gue Rusmin terjerat kasus Barbuk, sebagai penegak hukum dia lalai menggunakan barang yang bukan menjadi haknya, setelah berembuk dengan keluarga besar, akhirnya kita putuskan untuk melakukan apapun agar dia bisa lolos, usaha demi usaha kita lakukan, moril maupun materil, dari bantuan pengacara sampai bantuan paranormal kita lakukan. Akhirnya dia diganjar hukuman 1 tahun di LP Kebon Waru Bandung, terpisah dari istri yang sedang hamil 2 bulan dan 1 anak perempuan yang sudah berumur 5 tahun;
  • Untuk pertama kalinya, gue mengalami kejadian menggelikan sekaligus menyebalkan kalau diingat, temen kuliah gue “bermasalah” dengan temen bulenya….hahahaha….ampun euy!...
  • Akhir Juli 2006, gue pulang ke Garut untuk nujuh bulanin kehamilan gue, sekalian silaturahmi ketemu sanak keluarga, semuanya berjalan sesuai rencana, adik gue Atin yang kebetulan tinggal bareng di Jakarta, ikut serta, tak ada sesuatu yang istimewa, semua berjalan normal adanya;
  • Awal Agustus, Adik gue Atin menyampaikan sesuatu yang sangat menikam ulu hati gue, serasa kiamat. Dia minta izin menikah dengan pilihannya, yang gue sesalin adalah pilihan waktu dia menikah, kenapa ngak nanti-nanti ketika kondisi keluarga sudah kembali normal, ketika dia lulus kuliah, ketika gue sudah melahirkan, ketika kakaknya sudah keluar sel, kenapa harus sekarang?, tanggal 18 Agustus, waktu yang sangat cepat dan yang paling menyakitkan, selama ini dia sudah bohongi gue secara telak!. Dengan berat hati, gue suruh dia “angkat kaki”. Gue suruh dia untuk minta kakak-kakaknya yang lain yang urusin, tokh kalau niat dia butuh restu gue, kenapa pas nujuh bulanin, dia ngak ngomong sekalian, jadi gue bisa atur waktu dan anggaran gue berbarengan biar ngak berat diongkos. Nikahan dia, gue ngak datang!, dan sampai kini hubungan gue dengan adik gue memburuk;
  • Bulan September tanggal 20, setelah dokter kandungan salah diagnosa tentang usia kehamilan gue, sampai harus melalui tahapan test di RSCM, gue melahirkan anak gue Mahesa dengan operasi Caesar karena leher dia terlilit 2 putaran tali pusat. Alhamdulilah, kejadian yang sangat mengharu biru perasaan gue bisa dilalui tanpa hambatan berarti. Rangkaian detik demi detik gue berangkat dari rumah, sampai keluar Rumah Sakit menggendong dia, terus terekam dengan baik di ingatan gue. Kejadian yang sungguh luar biasa, untuk pertama kali gue merasakan bahwa uang ternyata tidak bisa membeli apapun terutama kehadiran suami gue yang rela mendampingi dan merawat gue sebaik mungkin. Dalam urusan financial mungkin dia kurang, tetapi kali itu, gue melihat betapa dia merawat gue dengan tulus. Tak ada sanak keluarga yang menemani, Cuma gue bertiga di Rumah Sakit yang apa adanya. Walaupun Cuma semalam di RS tersebut, tetapi justru disitulah gue menikmati jadi “warga kelas tiga”. Untungnya keadaan itu cepat berlalu, gue akhirnya pindah ke RS dekat rumah untuk perawatan, dengan pelayanan jauh lebih baik, suster-suster yang ramah dan kondisi kamar RS yang nyaman.
  • Gue berharap kantor tempat gue bekerja dapat sedikit meringankan beban biaya RS, tapi ternyata apa yang dijanjikan oleh bos gue, jauh dari harapan, cuti hanya diberi satu bulan saja, ongkos melahirkan tidak diganti sama sekali, untuk itu gue putuskan mencari tempat kerja lain, banyak pertimbangan yang melandasi keputusan gue pindah dari tempat kerja yang lokasinya sangat dekat dengan rumah, dengan teman-teman kerja yang begitu peduli dan saling menolong. Atasan gue mempunyai tabiat yang kurang baik, kasar dan tidak menghargai anak buah. Seringkali dalam kondisi hamil sekalipun, gue menerima perkataan yang “tidak sepantasnya” belum lagi trick management dia yang cenderung mengadu domba karyawan. Pada saat cuti melahirkan, gue tiba-tiba ditelpon mantan bos gue di perusahaan penerbangan, dia menawarkan pekerjaan di kantor teman baiknya. Pucuk dicinta ulam tiba, setelah bertemu dengan teman mantan bos gue itu, akhirnya gue diterima bekerja dengan gaji yang tidak berbeda jauh, lokasi di kuningan tapi sedikit memberikan pencerahan terhadap mental gue, bos gue yang baru, sangat santun dan terdidik.
  • Awal Nopember 2006, gue masuk kerja setelah 40 hari diam di rumah (sebenarnya ngak diam-diam amat, karena gue pada dasarnya ngak bisa diam), Bos gue mengomentari kondisi anak gue dengan istilah “kok kurus sich anak kamu?, ngak terawatt kayaknya”…hehehhe…untung saja gue sempet bawa anak gue datang ke pesta ulang tahun anak bos gue itu. Jadi dia bisa lihat!....sekali lagi, pucuk dicinta ulam tiba, dengan alasan ingin mengurus anak, gue ajukan pengunduran diri dari perusahan tersebut. Tanpa ba..bi..bu..bos gue meluluskan permintaan gue, yach jelas aja dia langsung meluluskan, wonk keberadaan gue di perusahaan tersebut sudah tidak diharapkan, menurut sopir, suami bos gue sangat tidak menyukai gue!..lach gemana mau menyukai dia, wonk suami bos gue itu memiliki tabiat yang sangat tidak gue sukai…amit2..jangan sampai gue ketemu bos seperti itu. Muka loe jauh!.
  • Tanggal 15 Nopember 2006, gue resmi bergabung dengan perusahaan baru di daerah Kuningan, gue bekerja di sebuah holding company yang mempunyai banyak kegiatan bisnis. Karena bisnis keluarga, jabatan gue disana belum jelas dan terkesan serabutan. Ngpp, walau gue sering tekor untuk biaya transport, tapi hati gue senang menjalaninya. Pulang pergi naik kereta api, bawa ompreng makan siang buat ngirit biaya. Sebagai perusahaan keluarga, disana banyak keluarga bos jadi atasan gue, tapi sejauh ini mereka sangat santun dalam bertutur kata. Walau track record dari big bos gue tidak terlalu baik dan tercatat sebagai salah satu pengusaha dengan catatan hitam di negeri ini, gue ngak peduli. Gue Cuma karyawan biasa, tidak disuruh berbohong, tidak disuruh menipu. Dan yang utama, dia tidak pernah mencaci maki karyawannya. Gue jalani semuanya, demi menyambung hidup anak dan keluarga gue.
  • Awal Desember, mantan pacar gue di STM, sms dari nomor UEA, ternyata dia ada di Kuwait, sms yang masih menyisakan rasa sayang dan perhatian. Dia mengirim uang ke gue untuk membantu biaya kuliah gue, hehehhe….gue terima dengan alasan, selain gue juga butuh, beberapa tahun yang lalu, gue pun pernah melakukan hal yang sama kepada adiknya dia. Take and Give kali. Suami gue pun tahu hal tersebut dan dia tidak berkomentar apa-apa. Gue bayar cicilan kuliah dan beli USB 2 GB dari duit yang dia kirim. Setelah itu, gue ngak pernah layanin sms dia lagi, tokh dalam hati, gue memang pernah mencintai dia dengan sangat. Tapi itu dulu gue sangat polos dalma urusan cinta laki-laki. Dia juga yang membuat gue sekarang seperti ini, menjalani hidup dengan cinta yang terkontrol terhadap lawan jenis.
  • Akhir Desember, gue terlibat dalam urusan menulis di millis tentang berita poligami yang menghebohkan, walaupun banyak orang mencaci pendapat gue, gue tetap layani semua sesuai dengan pendapat dan pengalaman hidup gue. Kadang apa yang nampak diluar tidak sesuai dengan apa yang kita alami sebenarnya. Orang hanya bisa mencerca tanpa tahu sebab dan alasanya. Tahu dech!, mungkin orang berpikir, pola hidup gue susah dimengerti, yang jelas, gue berusaha bertanggung-jawab terhadap apapun yang gue ambil. Salah benar, gue Cuma manusia biasa, yang penting integritas diri harus diutamakan.
  • Satu hari menjelang pergantian Tahun, gue titip anak gue di rumah PBB karena gue mau menyelesaikan tulisan ini, 1 jam kemudian anak gue akan gue ambil karena nanti malam, Bu’Denya mau datang, nengokin sekalian ajak kita jalan-jalan. Mungkin Cuma makan malam atau nonton bioskop tahun baru. Tahu dech!, rencana tinggal rencana, kita ngak pernah bisa mengetahui apa yang terjadi dalam sepersekian detik dari dipublisnya catatan akhir tahun ini.
  • Hubungan gue dengan Hendro pun baik-baik saja, dia mengharapkan bisa ketemu gue dan dua anak gue, katanya kangen. Tapi ntarlah, gue lagi atur waktunya, sekaligus nunggu Mahesa agak besar dan bisa diajak jalan-jalan jauh. Sampai kini dia masih single dan berharap suatu saat dapat bersatu kembali dengan gue. Tahu dech, gue tidak pernah berhasil mencintai dia. Dia terlalu baik dan umat yang taat, jauh dari sikap gue yang urakan dan nyeleneh.
  • Satu lagi yang tertinggal, dalam interaksi pribadi dengan lawan jenis, alhamdulilah, puji Tuhan gue tidak tergoda untuk menyukai laki-laki lain, gue hanya melayani sebagai pihak yang statis, tokh ngak sampai kencan diam-diam. Iseng aja kok!, lumayan buat ngurangin pulsa…hahahaha…..Nakal gue!.


    SELAMAT TAHUN BARU 2007, SEMOGA DI TAHUN YANG AKAN DATANG KONDISI KITA AKAN JAUH LEBIH BAIK, SEHAT WAL'AFIAT dan SEJAHTERA DAN HIDUP DENGAN PENUH KEDAMAIAN SEJELEK APAPUN KEJADIAN YANG KITA ALAMI.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home